Pasang Iklan Gratis

Gagalnya perundingan Iran-AS di Pakistan: Kebuntuan atau strategi?

 Kegagalan perundingan antara Iran dan Amerika Serikat di Hotel Serena–Islamabad, Pakistan, pada 11–12 April 2026 sejatinya tidak mengejutkan. Yang akan mengejutkan justru jika perundingan itu berhasil. Seluruh dunia pasti bertanya-tanya: Bagaimana mungkin konflik sepanas ini berakhir secepat itu?

Iran membawa narasi jihad untuk membalas kematian pemimpin tertinggi mereka, Ayatollah Ali Khamenei. Sementara itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu masih hidup dan belum dibalas setimpal. Dalam logika "mata ganti mata" (an eye for an eye) yang mengakar di Timur Tengah, dendam belum lunas. Apa benar Iran ingin melakukan gencatan senjata hanya karena Amerika Serikat memintanya?

Dari sini muncul pertanyaan: Mungkinkah perundingan itu memang tidak pernah benar-benar dimaksudkan untuk berhasil sejak awal?

Pertemuan maraton selama 21 jam—di Islamabad Serena Hotel—itu mempertemukan delegasi tingkat tinggi kedua negara. Amerika Serikat diwakili Wakil Presiden JD Vance bersama utusan khusus Jared Kushner yang merupakan menantu Donald Trump. Iran mengirimkan Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi dan Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf.

Di tengah ketegangan militer yang belum mereda, ekspektasi terhadap terobosan besar memang rendah sejak awal. Kedua pihak datang bukan untuk mengalah, melainkan untuk menguji batas satu sama lain. Tidak heran jika perundingan yang dijuluki "Islamabad Talks" itu berakhir tanpa hasil.

Iran Menang Sebelum Berbicara

Kejeniusan strategi Iran justru terletak pada apa yang mereka lakukan sebelum duduk di meja perundingan. Teheran memasang satu syarat mutlak untuk bersedia datang ke Islamabad: semua aset yang dibekukan milik Iran di luar negeri harus dikembalikan terlebih dahulu.

Dua hari sebelum perundingan, sumber-sumber Iran mengeklaim bahwa AS telah menyetujui pencairan dana beku senilai US$6 miliar (sekitar Rp102 triliun) yang disimpan di Qatar dan bank-bank lain. Washington memang membantah. Namun, narasi yang terbangun di mata publik global tetap satu: AS tunduk pada tekanan Iran.

Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, dengan tegas menyatakan bahwa gencatan senjata di Lebanon dan pencairan aset adalah dua syarat yang telah disepakati bersama sebelum perundingan dimulai. Maka, sekalipun perundingan gagal, Iran sudah mengantongi kemenangan. Aset mereka cair, tapi komitmen mereka belum ada.

Pepatah Arab mengajarkan, "Apa yang tidak dapat kamu gapai semua, jangan kamu tinggalkan semua." Iran tidak meraih kesepakatan damai, tapi mereka pulang dengan aset yang sebelumnya dibekukan. Itu bukan hasil buruk untuk disebut sebagai "kegagalan perundingan.”

Dalam diplomasi, pihak yang mengajukan syarat berat pada akhirnya akan mengalah pada poin-poin yang benar-benar mereka perjuangkan. Iran datang dengan 10 tuntutan yang memberatkan AS: pengakuan hak memperkaya uranium, penarikan pasukan AS dari kawasan, penghentian serangan Israel di Lebanon, dan lain-lain. Namun, pencairan aset adalah "harga tiket" untuk sekadar duduk bersama. Dengan berhasil memaksakan narasi bahwa AS membayar harga itu, Iran sudah memenangkan putaran pertama sebelum satu kata pun diucapkan di Islamabad.

Ini membuktikan bahwa perundingan telah menghasilkan efek konkret, terlepas dari tidak adanya kesepakatan akhir. Kegagalan formal tidak serta-merta berarti kegagalan strategis.

Dalam logika negosiasi, banyaknya tuntutan bukan berarti semuanya harus dipenuhi. Ini adalah bagian dari logika negosiasi yang meliputi:

Tuntutan yang banyak menciptakan ruang tawar.

Dari tuntutan tersebut akan terlihat mana yang benar-benar esensial.

Kegagalan menyepakati seluruh poin justru membantu menyaring kepentingan inti yang akan diperjuangkan pada fase berikutnya.

Mengapa Perundingan Gagal di Menit Akhir?

Kegagalan terjadi di menit-menit akhir, ketika kesepakatan sudah hampir tercapai. Sumber diplomatik mengonfirmasi kedua pihak "hanya beberapa inci lagi" dari kata sepakat. Iran menyalahkan AS yang memaksakan kehendak dan menggeser target di akhir pembicaraan. AS bersikeras Iran menolak melepaskan program nuklirnya secara permanen.

Kebuntuan di titik paling kritis: program nuklir Iran dan kendali atas Selat Hormuz. Iran mengajukan 10 poin (hak memperkaya uranium, penarikan pasukan AS, penghentian serangan Israel di Lebanon). AS membalas dengan 15 poin yang menuntut penghentian total pengayaan uranium, pembongkaran rudal balistik, menghentikan dukungan Iran atas proksi-proksinya dan jaminan keamanan maritim. Selat Hormuz—yang masih disandera Iran—terlalu berharga untuk dilepaskan.

Namun, faktor terbesar bukanlah ketidakmampuan teknis, melainkan ketiadaan kepercayaan. Iran tidak percaya AS akan menepati janji setelah mereka melepaskan alat tawar utama. AS juga tidak percaya Iran akan selamanya menjauhi senjata nuklir. Dalam kebuntuan saling curiga ini, tidak ada dokumen yang cukup kuat.


0 Response to "Gagalnya perundingan Iran-AS di Pakistan: Kebuntuan atau strategi?"

Posting Komentar